Free shipping for all ordes over $500+

Kalau ada yang bertanya sejak kapan saya tertarik dengan dunia visual art? jawabannya cukup panjang. Sejak kecil sebenarnya, di chapter blog ini nanti akan saya ceritakan perjalanan panjang itu satu persatu.

Kita mulai sedikit dari kilas balik, sekitar umur lima tahun sampai SMP, menggambar dan membuat berbagai bentuk visual adalah bagian besar dari hidup saya. Saya mengikuti lomba gambar, membuat berbagai eksperimen kecil, dan menghabiskan banyak waktu membayangkan benda-benda yang belum ada.

Namun ketika memasuki masa akhir SMA menuju kuliah, hidup saya mulai berubah. Saya harus bekerja sambil sekolah. Ada cerita personal yang cukup panjang jika diceritakan, mungkin suatu saat nanti kita bahas lagi. 

Dan seperti banyak mimpi masa kecil lainnya, dunia visual art perlahan saya tinggalkan. Bukan karena saya tidak menyukainya lagi, tetapi karena ada hal-hal yang saat itu terasa lebih mendesak untuk dipikirkan.

Mencari uang adalah salah satunya. Meski begitu, ada satu kebiasaan yang tidak pernah benar-benar hilang. Saya tetap suka mengikuti lomba. Mengikuti lomba adalah Solusi untuk mendapatkan uang dimasa itu, karena secara umur saya belum bisa bekerja atau melamar pekerjaan di Perusahaan jadinya mustahil saya mendapatkan gaji saat itu.

Bagi sebagian orang lomba mungkin hanya tentang prestasi. Bagi saya waktu itu, lomba adalah kesempatan. Kalau menang, ada hadiah uang dan biasa nya cukup lumayan di era sebelum tahun 2010. Kalau tidak menang, setidaknya saya belajar sesuatu yang baru.

Dari kebiasaan itulah ide WayBag lahir.

Tahun 2009 saya melihat sesuatu yang menarik.

Di satu sisi, produk-produk modern berkembang sangat cepat. Tas, aksesori, gadget, semuanya tampil dengan desain yang semakin minimalis dan kontemporer. Di sisi lain, saya melihat kekayaan visual budaya Indonesia yang luar biasa, terutama bentuk-bentuk ukiran dan ornamen wayang.

Saya lalu bertanya pada diri sendiri: “Kenapa keduanya selalu hidup di dunia yang berbeda?”Kenapa budaya tradisional sering hanya muncul di panggung budaya? Kenapa tidak hadir dalam benda yang digunakan sehari-hari? Pertanyaan sederhana itu terus berputar di kepala saya. Dan seperti biasanya, rasa penasaran berubah menjadi sketsa.

Saya mulai menggambar berbagai bentuk tas. Lalu saya mencoba memasukkan elemen wayang ke dalamnya. Bukan sekadar menempel motif. Saya ingin bentuk wayangnya menjadi bagian dari identitas produk itu sendiri.

Waktu itu saya belum punya tim. Belum punya workshop besar. Belum punya investor. Yang saya punya hanya ide, kertas gambar, dan keinginan untuk mencoba. Saya menghabiskan banyak malam membuat sketsa yang akhirnya berakhir di tempat sampah. Ada desain yang terlihat bagus di kepala tetapi aneh ketika digambar. Ada bentuk yang indah di kertas tetapi mustahil dibuat menjadi produk nyata. Ada banyak percobaan yang gagal. Dan justru itulah bagian yang paling menyenangkan. Karena setiap kegagalan memberi petunjuk tentang langkah berikutnya.

Nama WayBag sendiri muncul dari dua kata yang saat itu terasa sangat dekat dengan konsepnya: Wayang dan Bag. Sederhana. Mungkin terlalu sederhana. Tetapi saya merasa nama itu cukup mewakili apa yang sedang saya coba lakukan. Membawa bahasa visual wayang ke dalam sebuah produk modern.

Saya masih ingat ketika prototipe pertama selesai dibuat. Perasaannya selalu sulit dijelaskan. Ada campuran antara bangga, lega, dan takut. Bangga karena sesuatu yang sebelumnya hanya ada di kepala akhirnya bisa disentuh. Lega karena proses panjangnya selesai. Takut karena saya tidak tahu apakah ide ini masuk akal bagi orang lain. Sering kali kita jatuh cinta pada ide sendiri. Tetapi dunia luar belum tentu merasakan hal yang sama.

Untungnya saya memberanikan diri membawa WayBag ke berbagai kompetisi desain. Dan di luar dugaan, karya ini mulai mendapatkan perhatian. Beberapa penghargaan datang. Beberapa juri melihat potensi yang saya coba tawarkan. Tentu hadiahnya sangat membantu. Jujur saja, pada masa itu hadiah lomba bukan sekadar bonus. Kadang itu menjadi alasan utama saya mengikuti kompetisi. Saya sedang belajar bertahan hidup sambil menjaga mimpi agar tidak benar-benar padam. Dan mungkin karena alasan itu pula setiap kemenangan terasa sangat berarti. Bukan hanya karena pialanya. Tetapi karena memberi keyakinan bahwa apa yang saya kerjakan tidak sepenuhnya sia-sia.

Hari ini, lebih dari lima belas tahun kemudian Ketika blog ini di tulis tahun 2026, saya melihat WayBag dengan cara yang berbeda. Saya tidak lagi melihatnya sebagai desain tas. Saya melihatnya sebagai bukti bahwa ada masa ketika saya terus mencari jalan. Masa ketika saya belum tahu akan berakhir di dunia musik, visual art, teknologi, atau bidang apa pun yang saya kerjakan sekarang. Saya hanya tahu satu hal: Saya suka membuat sesuatu. Saya suka bereksperimen. Saya suka menghubungkan ide-ide yang tampaknya tidak berhubungan. Dan WayBag adalah salah satu jejak dari perjalanan itu.

Mungkin WayBag tidak pernah menjadi produk besar. Mungkin ia hanya berhenti sebagai prototipe dan kenangan. Tetapi saya bersyukur pernah membuatnya. Karena karya-karya seperti inilah yang diam-diam membentuk cara saya berpikir sampai hari ini. Setiap eksperimen lama selalu meninggalkan sesuatu. Kadang bukan bisnis. Kadang bukan uang. Kadang hanya sebuah pelajaran. Tetapi sering kali, pelajaran itulah yang nilainya paling mahal. Dan WayBag adalah salah satu pelajaran yang masih saya simpan sampai sekarang.

Creating the Extraordinary Arts. Inspiring the World